Komisi XII DPR: Industri Migas Dalam Negeri Mampu Penuhi Proyek Nasional dengan TKDN 69,68 Persen

Batam, Jendelakepri.com – Industri penunjang migas dalam negeri dinilai mampu memenuhi kebutuhan proyek nasional dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 69,68 persen. Penilaian itu disampaikan Panitia Kerja Migas Komisi XII DPR RI saat kunjungan kerja ke kawasan industri Kabil, Batam.

Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya mengatakan, kunjungan tersebut membuktikan Indonesia telah mampu memproduksi berbagai peralatan migas yang selama ini dianggap belum bisa dibuat di dalam negeri. Produk-produk tersebut bahkan telah memiliki TKDN yang tinggi.

“Ternyata Indonesia sudah mampu memproduksi barang-barang migas yang selama ini kita pikir belum bisa,” ujar Bambang Patijaya, Kamis (5/02/2026).

Menurut Bambang, capaian tersebut perlu diketahui publik sebagai dasar mendorong investasi sektor migas nasional. Ia menegaskan pentingnya keberpihakan terhadap produk dalam negeri dalam setiap proyek migas.

“Ke depan, kita berharap investasi migas mengutamakan penggunaan barang produksi dalam negeri,” katanya.

Komisi XII DPR RI juga memberikan apresiasi kepada perusahaan-perusahaan di kawasan industri Kabil yang terus berinovasi dan berinvestasi. Upaya tersebut dinilai penting untuk meningkatkan jumlah produk migas dengan kandungan lokal yang semakin tinggi.

Sebagai bentuk dukungan konkret, Komisi XII akan melakukan verifikasi serta memberikan rekomendasi kepada SKK Migas. Rekomendasi tersebut menekankan agar proyek-proyek migas, khususnya proyek besar, mengutamakan penggunaan produk dalam negeri.

“Dalam proyek-proyek migas ke depan, terutama proyek besar, sebaiknya didahulukan barang produksi dalam negeri,” ujarnya.

Bambang juga menyoroti posisi strategis Batam yang berbatasan langsung dengan Singapura. Menurutnya, kawasan industri di Batam telah menunjukkan daya saing yang kuat.

“Batam ini etalase depan Indonesia dan kita terbukti punya daya saing,” katanya.

Terkait target peningkatan hulu migas nasional, Bambang menyebut periode 2026 hingga 2028 akan diwarnai sejumlah proyek strategis nasional. Proyek-proyek tersebut membutuhkan dukungan industri pipa dan peralatan migas dalam negeri.

“Proyek-proyek besar itu membutuhkan pipa dan peralatan, dan kami berharap industri dalam negeri bisa berperan lebih aktif,” ungkapnya.

Meski demikian, Bambang mengakui belum seluruh proyek migas menggunakan produk dalam negeri secara optimal. Karena itu, DPR mendorong konsistensi panitia lelang agar memprioritaskan produk ber-TKDN tinggi tanpa mengarah pada merek tertentu.

Keberadaan industri penunjang migas di kawasan Kabil juga memberikan dampak ekonomi signifikan. Kawasan ini tercatat menyerap sekitar 15 ribu tenaga kerja dan berkontribusi besar terhadap perekonomian daerah.

Bambang menegaskan industri penunjang migas tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga memperkuat struktur industri nasional. Ia berharap peran industri dalam negeri semakin besar dalam proyek-proyek migas nasional.

Sementara itu, Ketua Citra Grup atau PT Dwi Sumber Arca Waja (DSAW) Kris Wiluan menyambut positif kunjungan Komisi XII DPR RI. Ia menyebut kunjungan tersebut sebagai bentuk dukungan nyata pemerintah terhadap industri migas nasional.

“Kunjungan ini menjadi angin segar dan bentuk dukungan nyata DPR RI dan pemerintah,” ujar Kris.

Kris menjelaskan, sejak 1980-an perusahaannya berupaya membangun industri penunjang migas agar Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Selama ini, banyak kegiatan pabrikasi peralatan migas masih dilakukan di Singapura.

Menurutnya, kawasan industri Kabil dibangun untuk mengurangi devisa keluar negeri sekaligus membuka lapangan kerja. Kawasan ini juga mendukung pengembangan Batam sebagai pusat industri yang maju dan berdaya saing.

“Kami membangun kawasan ini untuk mengurangi devisa keluar dan membuka lapangan kerja,” katanya.

Kawasan industri terpadu Kabil mulai beroperasi pada 1990 dan kini dihuni hampir 50 perusahaan. Total luas kawasan mencapai sekitar 550 hektare dengan keterlibatan sekitar 15 ribu tenaga kerja, termasuk tenaga kerja lokal.

Kawasan tersebut juga dilengkapi pelabuhan internasional yang memungkinkan pengapalan langsung ke negara tujuan. Dengan fasilitas ini, produk tidak perlu lagi transit melalui negara tetangga.

Sejak beroperasi, Kris menegaskan pihaknya berkomitmen mendukung pembangunan nasional, khususnya di sektor migas. Ia berharap dukungan pemerintah terus berlanjut agar industri migas nasional semakin mandiri dan kompetitif.

“Kami akan terus berkontribusi bagi penguatan industri migas nasional,” pungkasnya.