The post Dragon Boat Race 2026, Lestarikan Budaya Bahari dan Dongkrak Pariwisata Kepri appeared first on Jendela Kepri.
]]>Pembukaan ditandai dengan pemotongan pita perlombaan yang disaksikan ribuan masyarakat yang memadati kawasan pesisir Pelantar 3. Turut hadir pula Wakil Gubernur Kepulauan Riau Nyanyang Haris Pratamura dan Wakil Walikota Tanjungpinang Raja Ariza. Antusiasme warga begitu tinggi untuk menyaksikan adu kecepatan tim perahu naga yang berlaga di perairan Tanjungpinang.
Dalam sambutannya, Gubernur Ansar Ahmad mengatakan Dragon Boat Race bukan sekadar perlombaan olahraga air, tetapi juga menjadi simbol keberagaman budaya, semangat kebersamaan, serta kekayaan tradisi bahari yang dimiliki Provinsi Kepulauan Riau.
“Dragon Boat Race merupakan salah satu warisan budaya yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Tanjungpinang. Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau akan terus mendukung pelestarian event-event budaya seperti ini karena mampu mempererat persatuan masyarakat sekaligus menjadi daya tarik wisata yang sangat potensial,” ujar Ansar.
Menurut Ansar, penyelenggaraan event budaya yang dikemas secara profesional menjadi bagian dari strategi Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dalam mengembangkan sektor pariwisata berbasis budaya dan olahraga (sport tourism).
Ia menilai kehadiran ribuan pengunjung selama pelaksanaan Dragon Boat Race akan memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya pelaku UMKM, sektor kuliner, perhotelan, transportasi, hingga jasa wisata.
“Kita ingin setiap event yang dilaksanakan di Kepri memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Semakin banyak wisatawan yang datang, semakin besar pula perputaran ekonomi yang dirasakan pelaku usaha lokal,” katanya.
Perlombaan perahu naga tahun ini kembali menyuguhkan persaingan sengit antar tim yang berpacu menaklukkan lintasan di perairan Pelantar 3. Irama tabuhan genderang yang mengiringi kayuhan para atlet dipadukan dengan sorak-sorai ribuan penonton menciptakan suasana semarak yang menjadi ciri khas Dragon Boat Race setiap tahunnya.

Dragon Boat Race sendiri merupakan tradisi masyarakat Tionghoa yang telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat pesisir Tanjungpinang. Event ini juga berkaitan erat dengan tradisi Sembahyang Keselamatan Laut, sebagai bentuk rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap budaya maritim yang telah mengakar sejak lama.
Keunikan tersebut menjadikan Dragon Boat Race tidak hanya sebagai ajang kompetisi olahraga tradisional, tetapi juga sebagai atraksi budaya yang mampu menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara.
Selama pelaksanaan perlombaan, kawasan Pelantar 3 diperkirakan kembali dipadati masyarakat. Seperti tahun-tahun sebelumnya, sebagian warga bahkan memilih menyaksikan jalannya lomba dari atas pompong yang berjajar di sekitar lintasan balap untuk mendapatkan sudut pandang terbaik.
Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau berharap Dragon Boat Race 2026 semakin memperkuat posisi Tanjungpinang sebagai destinasi wisata budaya unggulan di Indonesia. Melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan, event ini diharapkan terus berkembang menjadi agenda internasional yang mampu memperkenalkan kekayaan budaya Melayu dan Tionghoa serta kehidupan maritim Kepulauan Riau kepada dunia.
The post Dragon Boat Race 2026, Lestarikan Budaya Bahari dan Dongkrak Pariwisata Kepri appeared first on Jendela Kepri.
]]>The post Pulau Penyengat, Jembatan Lintas Generasi Menuju Pariwisata Berkelanjutan appeared first on Jendela Kepri.
]]>Sebagai miniatur kejayaan peradaban Melayu-Islam, Pulau Penyengat memiliki nilai historis tinggi, termasuk sebagai pusat lahirnya tata bahasa Melayu yang menjadi dasar Bahasa Indonesia melalui karya tokoh besar Raja Ali Haji. Selain itu, kawasan ini juga telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional dan terus dikembangkan sebagai destinasi wisata halal unggulan.
Sejalan dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2024–2029, pembangunan sektor pariwisata diarahkan pada konsep pariwisata berkualitas dan berkelanjutan melalui pendekatan pariwisata regeneratif.
Konsep ini menekankan pentingnya keberlanjutan dengan melibatkan partisipasi masyarakat serta memberikan dampak positif terhadap lingkungan, sosial, ekonomi, dan budaya.
Presiden RI Prabowo Subianto juga menginstruksikan implementasi Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Rapi, dan Indah) serta Gerakan Wisata Bersih (GWB) sebagai upaya menjaga kebersihan dan kenyamanan destinasi wisata di seluruh daerah.
Dalam mendukung instruksi tersebut, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau di bawah kepemimpinan Gubernur H. Ansar Ahmad terus melakukan revitalisasi kawasan Pulau Penyengat secara masif. Berbagai pembangunan telah dilakukan, mulai dari penataan jalan kawasan, perbaikan drainase, pemasangan lampu penerangan, penataan objek wisata, penyediaan fasilitas umum seperti toilet, hingga pengelolaan sampah.
Tak hanya itu, pengembangan sektor pariwisata juga melibatkan masyarakat melalui penguatan UMKM, pengelolaan homestay, serta berbagai atraksi wisata berbasis budaya lokal.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri, Hasan, menegaskan bahwa Pulau Penyengat memiliki kekuatan besar sebagai destinasi wisata berbasis sejarah dan budaya yang mampu memberikan dampak ekonomi nyata.
“Pulau Penyengat bukan hanya memiliki nilai sejarah yang tinggi, tetapi juga menjadi kekuatan ekonomi daerah melalui pengembangan pariwisata berbasis budaya dan religi,” ujarnya.
Hasan menambahkan bahwa pendekatan pariwisata regeneratif menjadi kunci dalam pengembangan Pulau Penyengat ke depan.
“Konsep pariwisata regeneratif ini menekankan bahwa pariwisata tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga mampu memperbaiki lingkungan, sosial, dan budaya dengan melibatkan masyarakat secara aktif,” jelasnya.
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Selama periode Januari hingga Maret 2026, kunjungan wisatawan ke Pulau Penyengat tercatat mencapai sekitar 6.200 orang, baik wisatawan mancanegara maupun domestik, khususnya dari Malaysia, Singapura, Eropa, serta wilayah Nusantara, terutama pada momentum libur nasional dan Hari Raya Idulfitri.
Menurut Hasan, meningkatnya jumlah kunjungan ini harus dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat setempat.
“Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, ini menjadi peluang besar bagi masyarakat untuk mengembangkan UMKM, homestay, serta berbagai layanan wisata lainnya,” ungkapnya.
Pemerintah Provinsi Kepri bersama Pemerintah Kota Tanjungpinang juga terus melakukan pembinaan terhadap pelaku UMKM dan pengelola homestay agar mampu memberikan layanan yang berkualitas kepada wisatawan.
Masyarakat juga diimbau untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan sebagai bagian penting dalam menciptakan daya tarik wisata yang berkelanjutan.
“Wisatawan akan tertarik dan kembali berkunjung apabila destinasi wisata tersebut bersih, nyaman, dan ramah. Karena itu, peran masyarakat sangat penting dalam menjaga Pulau Penyengat,” tambah Hasan.
Ke depan, Gubernur Ansar Ahmad menegaskan komitmennya untuk terus melanjutkan pembangunan di Pulau Penyengat, termasuk rencana pembangunan monumen bahasa, peningkatan akses penerangan jalan, serta revitalisasi lanjutan Balai Adat sebagai destinasi wisata baru.
Hasan menyebutkan bahwa pembangunan monumen bahasa dan museum akan menjadi daya tarik baru sekaligus penggerak ekonomi daerah.
“Pembangunan monumen bahasa ini akan menjadi ikon baru yang tidak hanya memperkuat identitas sejarah, tetapi juga memberikan multiplier effect terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” jelasnya.
Dengan kekayaan sejarah, budaya, dan nilai religius yang dimiliki, Pulau Penyengat diharapkan mampu menjadi jembatan lintas generasi dalam memperkenalkan kejayaan peradaban Melayu-Islam sekaligus menjadi pusat edukasi budaya dan sejarah bagi generasi masa kini dan mendatang. (*)
The post Pulau Penyengat, Jembatan Lintas Generasi Menuju Pariwisata Berkelanjutan appeared first on Jendela Kepri.
]]>The post Museum dan Monumen Tugu Bahasa, Berpotensi Jadi Daya Tarik Wisata Sejarah appeared first on Jendela Kepri.
]]>Menurutnya, potensi tersebut akan semakin kuat apabila pembangunan museum dan monumen telah rampung. Keberadaannya diyakini mampu menarik wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri.
“Pulau Penyengat ini sangat besar potensinya untuk wisata sejarah dan kebudayaan,” katanya di Pulau Penyengat, Jumat (10/4).
Ia menegaskan akan terus mendorong realisasi pembangunan Museum dan Monumen Bahasa di Pulau Penyengat.
Hal ini tidak terlepas dari nilai sejarah kawasan tersebut, termasuk kaitannya dengan lahirnya bahasa Indonesia.
“Kami berharap keunggulan ini dapat menarik wisatawan luar negeri, terlebih lagi jika ada event berskala internasional,” ujarnya.
Medrilzam juga mengaku terkesan dengan keindahan Pulau Penyengat. Ia menyampaikan hal tersebut setelah mengunjungi sejumlah titik, seperti Masjid Penyengat, Balai Adat, hingga lokasi rencana pembangunan monumen dan museum.
“Kalau ke Kepri sangat disayangkan tidak sampai ke Penyengat. Menurut saya, ini bisa menjadi magnet tersendiri,” tuturnya.
Di sisi lain, Gubernur Kepulauan Riau H. Ansar Ahmad menyampaikan bahwa peletakan batu pertama Museum dan Monumen Tugu Bahasa direncanakan berlangsung pada Juni mendatang.
“Kita lagi menunggu lelang manajemen konstruksi. Perkiraan kita bulan Juni sudah mulai berjalan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kehadiran museum dan monumen tersebut diharapkan menjadi daya tarik baru bagi wisatawan yang berkunjung ke Kepri, khususnya Tanjungpinang.
“Dengan tingginya wisatawan yang datang, nantinya juga akan berdampak terhadap pertumbuhan dan perputaran perekonomian di Tanjungpinang, khususnya di Pulau Penyengat,” tutupnya.
The post Museum dan Monumen Tugu Bahasa, Berpotensi Jadi Daya Tarik Wisata Sejarah appeared first on Jendela Kepri.
]]>The post Gubernur Ansar Dampingi Wamenko Polhukam dan Plt. Wakil Jaksa Agung RI Kunjungi Pulau Penyengat appeared first on Jendela Kepri.
]]>Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya menggali dan menghargai warisan sejarah kebangsaan, khususnya di kawasan Melayu yang kaya akan nilai budaya dan kontribusi terhadap identitas nasional.
Didampingi langsung oleh Gubernur Kepulauan Riau H. Ansar Ahmad, rombongan menyusuri sejumlah situs penting di Pulau Penyengat, seperti Masjid Raya Sultan Riau, makam Raja Hamidah (Engku Puteri), serta makam Pahlawan Nasional Raja Ali Haji yang dikenal sebagai penggagas tata bahasa Melayu dan peletak dasar Bahasa Indonesia modern.
Rombongan juga mengunjungi Rumah Perdamaian Adhyaksa di sebelah Balai Adat Melayu dan menyempatkan untuk mencuci muka di Sumur Perigi Tua, sebuah sumur bersejarah yang dipercaya masyarakat memiliki nilai simbolik penyucian diri.
Gubernur Kepulauan Riau H. Ansar Ahmad menyampaikan rasa bangganya atas kunjungan ini, yang menurutnya menjadi bentuk pengakuan nasional terhadap peran besar Pulau Penyengat dalam sejarah bangsa.
“Pulau Penyengat adalah pusaka bangsa, bukan hanya milik Kepri. Di sini lahir pemikir besar seperti Raja Ali Haji yang kontribusinya begitu nyata dalam sejarah bahasa dan kebangsaan kita,” kata Gubernur Ansar.
Gubernur Ansar juga berharap kunjungan pejabat tinggi negara ini dapat memperkuat posisi Penyengat sebagai situs sejarah unggulan di Indonesia.
“Kami berkomitmen menjaga dan terus mendorong revitalisasi Pulau Penyengat agar nilai-nilai sejarah, budaya dan pendidikan yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan dikenal generasi muda,” tegasnya.

Wamenko Polhukam RI Letjen TNI (Purn) Lodewick Freidrich menyampaikan apresiasinya atas pelestarian nilai sejarah dan budaya yang dilakukan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.
“Penyengat bukan hanya saksi sejarah, tapi juga simbol penting dari keberagaman dan persatuan bangsa kita,” ungkap Lodewick.
Lodewick pun menegaskan bahwa kunjungan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk nyata penghormatan terhadap jejak peradaban Melayu yang berkontribusi pada pembangunan jati diri bangsa Indonesia.
“Kami melihat bagaimana sinergi antara pelestarian budaya dan semangat kebangsaan di sini menjadi contoh positif untuk daerah lain,” ujarnya.
Sementara itu, Plt. Wakil Jaksa Agung RI Prof. Dr. Asep Nana Mulyana menyebut Pulau Penyengat sebagai ruang pembelajaran penting tentang kearifan lokal, hukum adat dan nilai-nilai keadilan yang berkembang sejak zaman kesultanan.
“Sebagai penegak hukum, kami percaya bahwa nilai-nilai budaya adalah fondasi dari hukum yang berkeadilan,” jelas Asep.
Asep juga menilai situs-situs sejarah di Penyengat mengajarkan bahwa hukum dan budaya berjalan seiring dalam membentuk tatanan masyarakat yang beradab.
“Kami sangat mengapresiasi keberadaan Rumah Perdamaian Adhyaksa di Pulau Penyengat. Ini bentuk nyata pendekatan hukum restoratif yang berpijak pada kearifan lokal,” tutupnya.
Turut mendampingi, Kepala Kejaksaan Tinggi Kepulauan Riau Jehezkiel Devy Sudarso beserta jajaran Kejati dan Kejari yang mengikuti. (*)
The post Gubernur Ansar Dampingi Wamenko Polhukam dan Plt. Wakil Jaksa Agung RI Kunjungi Pulau Penyengat appeared first on Jendela Kepri.
]]>The post Festival Indera Sakti, Jadikan Suasana Malam di Penyengat Semakin Gemerlap appeared first on Jendela Kepri.
]]>Mengusung tema “Negeri Sakti Tanah Bertuah”, FIS digelar selama tiga hari dari 25 April sampai 28 April 2024. Dalam rangkaiannya, FIS akan menampilkan ragam seni budaya dengan menampilkan Teater Makyong, Gurindam 12, Tari Zapin, Boria, Silat, Kompang, Musik Ghazal, Pawai Budaya, dan Pertunjukan Delegasi Seni dari 3 Provinsi 2 Negara.
Selain Provinsi Kepri selaku tuan rumah, festival ini juga diikuti Provinsi Riau, Provinsi Sumatera Utara, dan Provinsi Sumatera Barat. Bahkan dua negara jiran, Singapura dan Malaysia, dipastikan ikut andil dalam Festival Indera Sakti tersebut.
Dalam sambutannya, Gubernur Ansar menyampaikan bahwa festival ini digelar untuk menjaga kelestarian budaya serta memperkenalkan Provinsi Kepulauan Riau. Menurutnya, bangsa yang pandai bersyukur adalah bangsa yang menghargai nilai-nilai budaya sejarahnya.
“Festival ini digelar untuk menjaga kelestarian budaya dan untuk terus memperkenalkan Provinsi Kepri sekaligus menjamin agar budaya menjadi jembatan antar generasi,” ujar Gubernur Ansar.
Gubernur Ansar mengatakan Pulau Penyengat mendapat anugerah tertinggi dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia sebagai desa terbaik nasional pertama desa rintisan dalam Anugerah Desa Wisata Nasional Indonesia.
“Pulau Penyengat ini kita pelihara, kita jaga, kita lestarikan, dan kita kembangkan. Oleh karena itu, selama beberapa tahun Pulau Penyengat ini kita kemas sedemikian rupa. Ini adalah pekerjaan kita tahap kedua, dan selanjutnya, insyaAllah kita akan berupaya melalui dukungan pemerintah pusat untuk membangun Monumen Bahasa Indonesia di sini,” tutur Gubernur Ansar.
Gubernur Ansar berharap Pulau Penyengat dapat terus dikembangkan sebagai destinasi wisata ziarah dan religi serta dijadikan sebagai pulau zero karbon dengan mengganti becak-becak motor menjadi becak listrik.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Kepri, Juramadi Esram, menjelaskan FIS sengaja digelar malam hari karena nuansa Pulau Penyengat lebih gemerlap pada malam hari dan antusiasme masyarakat sangat tinggi.
“FIS sengaja digelar malam hari karena nuansa Penyengat sudah berubah. Kalau siang benderang, malam lebih gemerlap, dan antusias masyarakat sangat tinggi,” ungkap Juramadi.
Dalam acara tersebut, Gubernur Ansar juga memberikan bantuan berupa pakaian set, kompang, seragam, dan pakaian silat, serta uang pembinaan sebesar Rp200 juta untuk Sanggar Budaya Warisan Penyengat.
Festival Indera Sakti menghadirkan partisipasi dari beberapa daerah seperti Riau, Malang, Singapura, dan Lingga. Acara ini diharapkan dapat menambah gairah masyarakat untuk berkunjung ke Pulau Penyengat, baik siang maupun malam hari.
The post Festival Indera Sakti, Jadikan Suasana Malam di Penyengat Semakin Gemerlap appeared first on Jendela Kepri.
]]>